Refleksi 5 Perkuliahan Filsafat Pendidikan
REFLEKSI MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN
DOSEN PENGAMPU : PROF. DR. MARSIGIT, MA
Pertemuan ke-5 : Rabu, 17 Oktober 2018
Nama : Woro Sri
Hastuti
Prodi : S3
Dikdas 2018
NIM :
18706261003
Deskripsi
Perkuliahan:
Seperti biasanya, perkuliahan
diawali dengan kuis jawab singkat: filsafat berlanjut, filsafat berhenti,
filsafat yang besar, filsafat yang kecil, filsafat yang berubah, filsafat yang
tetap, filsafat makrokosmis, mikrokosmis, eraklitas, perminides, analitik,
mitos, logos. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan kesempatan bertanya. Inti
dari perkuliahan adalah sebagai berikut.
Pertama:
filsafat dipahami secara mendalam, diimplementasikan bukan sekedar dihafalkan.
Ketika orang hanya menghafal filsafat,maka itu mitos. Meskipun demikian, mitos
bukan selalu salah, karena jika tidak ada mitos maka tidak ada logos. Mitos
dimaknai sebagai sesuatu yang belum dipelajari dengan mendalam. Ada yang tidak
diperbolehkan untuk dijadikan mitos yaitu spiritualitas. Karena spiritual bukan
sesuatu yang hanya dihafalkan tetapi keyakinan yang tidak meragukan. Pembahasan
kedua adalah tentang mengapa dimulai
dengan ada dan tidak ada. Permulaan adalah dasar/ landasan. Foundalism. Semua yang kita lakukan harus dimulai dengan
foundalism, karena ini menjadi awalan sesuatu. Contoh konkritnya adalah sebelum
melakukan sesuatu diawali dengan berdoa. Dasar doa menguatkan yang kita
lakukan. Ketiga: filsafat di dalam: ada dalam pikiran manusia (olah
pikir/logos). Sesuatu yang di luar
pikiran adalah yang belum dipahami. Keempat:
adil? Menyoal sesuai tatanan ruang dan waktu, bukan sama besar/ sama banyak.
Berlaku cerdas sesuai ruang dan waktu itulah adil. Filsafat memiliki musuh,
maksudnya adalah apa yang menyebabkan filsafat menjadi salah ruang dan waktunya
seperti salah tafsir,tergesa-gesa dalam mengambil keputusan/ tidak berpikir
mendalam. Kelima: hubungan filsafat dengan ilmu psikologi. Penjelasannya adalah (a) psikologi adalah
ilmu mengenai gejala jiwa, sedangkan filsafat adalah ilmu olah pikir; (b)
Psikologi merupakan turunan dari filsafat (hasil akal manusia yaitu mencari dan
berpikir tentang kebenaran yang sedalam-dalamnya. Psikologi mempelajari gejala
manusia dipandang dari kejiawaannya; (c) filsafat adalah ilmu murni, sedangkan
psikologi adalah ilmu murni dan praktis; (d) filsafat menggunakan kemampuan
berpikir reflektif , sedangkan psikologi menggunakan metode observasional atau
eksperimental. Kelima: membahas
pertanyaan bagaimana menghadapi kekakuan seseorang. Orang yang strick adalah
orang yang tidak cocok ruang dan waktunya. Istilah Jawa, dikenal dengan gege
mangsa yang artinya mendahului ketetapan Allah. Berfilsafat berarti memiliki
sifat fleksibel sesuai ruang dan waktunya.
Pemahaman
saya
Filsafat adalah olah pikir, maka
berfilsafat adalah berpikir untuk menjelaskan sesuatu yang ada dalam pikiran
kita, dan memahami apa yang ada di luar pikiran kita sehingga menjadi lebih
mengetahui. Apa yang diketahui untuk dipahami dan kemudian diimplementasikan.
Orang yang berfilsafat memiiki sifat fleksibel sesuai ruang dan waktunya.
Ketika ini tidak dilakukan maka disebut mitos atau bukan logos. Contoh dalam
dunia pendidikan adalah kemampuan guru dalam mengkondisikan agar siswa
mengkonstruk pengetahuannya dengan cara-cara sesuai dengan usia dan
perkembangan siswa itu sendiri. Agama bukan mitos tetapi keyakinan yang tidak
meragukan karena datangnya dari Allah.
Ketika filsafat tidak sesuai ruang dan waktunya maka salah atau musuh
filsafat. Psikologi sebagai bagian dari filsafat.
Manfaat
yang saya petik dari perkuliahan ini
Fleksibilitas seseorang untuk
menyesuaikan dengan ruang dan waktu diperlukan dalam bekehidupan agar bisa
menjadi manusia yang baik.
Hal
yang ingin saya ketahui
Bagaimana berfleksibel diantara yang
tidak fleksibel?
Referensi:
https://powermathematics.blogspot.com/
https://www.uny.ac.id/
Komentar
Posting Komentar