Refleksi 2 Perkuliahan Filsafat Pendidikan


REFLEKSI MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN
DOSEN PENGAMPU    : PROF. DR. MARSIGIT, MA
Pertemuan ke-2           : Rabu,  19 September 2018
Nama                                :Woro Sri Hastuti
Prodi                                 : S3 Dikdas 2018
NIM                                   : 18706261003
Deskripsi Perkuliahan:
Prof Marsigit membahas, pertama: tentang paradox. Cengkar melayu adalah paradox atau pertentangan. Suatu negara harus ada oposisi yang ini adalah paradox. Paradox adalah kontradiksi. Umumnya orang menghindar kontradiksi. Dalam filsafat, sebenar-benarnya ilmu adalah kontradiksi. Ilmu adalah perbatasan. Tentang ilmu Prof Marsigit, maka maqom Prof Marsigit lebih tinggi dari mahasiswa. Sebenar-benarnya filsafat adalah menjelaskan.  Jika di dalam matematika ½ + ½ = 1 maka di dalam filsafat bukan 1. Pikirkan apa yang engkau kerjakan dan kerjakan apa yang engkau pikirkan. Lalu, doakan apa yang engkau pikirkan dan doakan apa yang engkau kerjakan.  Ada jarak antara yang dipikirkan dan yang dikerjakan. Memilih apa yang dikerjakan harus dilarikan. Seperti istilah jawa cokro maggilingan(lingkaran yang berputar). Sebenar-benarnya dunia dalah narasi, kata-kata.  Filsafat itu adab/ tata karma.  Kemudian kedua beliau membahas tentang: tataran filsafat dan tataran spiritual. Bahwa pemahaman spiritual ada di hati, dan pemahaman filsafat ada di otak. Ilmu yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi tidak hanya di pikiran tetapi juga dihati. Filsafat adalah semua yang dipikirkan, tetapi tidak semua dapat dipikirkan manusia.  Ketiga: apa perbedaan antara yang ada di dalam pikiran dan tidak ada di dalam pikiran.  Bahwa fungsi pertanyaan adalah mengADAkan yang BELUM ada di dalam pikiran. Selanjutnya beliau memberikan contoh bahwa yang belum diketahui adalah yang belum ada di pikiran dan yang telah diketahui adalah yang ada di dalam pikiran. Selanjutnya beliau menjelaskan mengenai ikhtiar,dan takdir. Bahwa sebenar-benarnya hidup adalah berikhtiar dan sebenar-benarnya ikhtiar adalah memilih,sedangkan takdir adalah terpilih. Berikutnya, beliau menjawab pertanyaan tentang mengapa filsafat diajarkan di mahasiswa? Beliau menjelaskan bahwa filsafat itu bukan diajarkan, Karena filsafat adalah dirimu. Dosen sebagai cermin/ referensi.
Pemahaman saya
Hidup adalah berjalan secara kontinu. Orang hidup itu berpikir, bekerja, lalu berpikir, dan kemudian bekerja seperti cokro manggilingan yang selalu berputar. Filsafat adalah semua yang dipikirkan tetapi tidak semua dapat dipikirkan. Hal ini memberi makna bahwa manusia memiliki keterbatasan jangkauan. Tidak ada manusia yang mengetahu secara keseluruhan. Hanya Allah yang maha mengetahui. Manusia berpikir untuk mendapatkan pengetahuan sehingga pengetahuan ada di dalam pikiran manusia. Dalam pendidikan, sempitnya di situasi kelas pembelajaran, maka agar siswa mendapatkan pengetahuan maka harus berpikir. Untuk memancing siswa berpikir, maka guru mengajukan fenomena dan pertanyaan, karena seperti yang telah dijelaskan Prof Marsigit bahwa fungsi pertanyaan adalah mengADAkan yang BELUM ada di dalam pikiran. Orang hidup harus berikhtiar, namun demikian juga harus berdoa, karena semua yang terjadi adalah takdir. Manusia boleh memilih tetapi yang kemudian terpilih adalah takdir.
Manfaat yang saya petik dari perkuliahan ini
Tidak ada satu alasanpun manusia untuk sombong. manusia diwajibkan berikhtiar dengan pertimbangan dari olah pikirnya,dan berdoa untuk menyadarkan bahwa ada yang Maha Mengatur segala apa yang ada di dunia. Manusia “hidup”’ adalah manusia yang berpikir dan menggunakan hatinya untuk menentukan langkah/ berperilaku. Pikiran, hati, dan perilaku harus sinkron.

Hal yang ingin saya ketahui
Bagaimana caranya untuk menstabilkan kondisi pikiran,hati, dan perilaku dalam berkehidupan?

Referensi:
https://powermathematics.blogspot.com/
https://www.uny.ac.id/

Komentar