Refleksi 3 Perkuliahan Filsafat Pendidikan
REFLEKSI MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN
DOSEN PENGAMPU : PROF. DR. MARSIGIT, MA
Pertemuan ke-3 : Rabu, 26 September 2018
Nama : Woro Sri
Hastuti
Prodi : S3
Dikdas 2018
NIM :
18706261003
Deskripsi
Perkuliahan:
Perkuliahan diawali dengan kuis awal
dengan pertanyaan diantaranya adalah apa sebab? Sebab apa? Sebab dimana? Dan
seterusnya. Jawaban atas beberapa pertanyaan adalah ada. Apa sebab? Jawabannya
adalah ada. Selanjutnya dibahas lebih
lanjut tentang ada.
Persoalan filsafat ada 2 yaitu
pertama, menjelaskan apa yag ada di dalam pikiran dan kedua, memahami apa yang
ada di luar pikiran. Apakah kita bisa merasakan perbedaan sebelum sesuatu ada
di dalam pikiran dan setelah ada di dalam pikiran? Untuk menjawab pertanyaan
tersebut, percobaan dimulai.
Mahasiswa
belum mengetahui nama cucu Bapak Prof Marsigit, ketika ditanya siapa nama cucu
Bapak Prof Marsigit, maka mahasiswa menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian Bapak
Prof Marsigit memberitahu mahasiswa nama cucu beliau. Ketika mahasiswa ditanya,
apakah mahasiswa tahu nama cucu beliau? Mahasiswa menganggukkan kepala.
Percobaan tersebut tentang
kedudukan/hakiki/the nature/ keberadaan objek. Adapun proses dari luar masuk
kedalam pikiran adalah cara atau epistemologi.
Perkuliahan dilanjutkan dengan
memberikan kesempatan mahasiswa membuat 2 pertanyaan. Pertanyaan yang dibahas
pada pertemuan ini salah satunya adalah “mengapa di dunia ini selalu ada dua
sisi?”
Prof Marsigit mengawali dengan
pertanyaan Bagaimana membangun dunia secara filsafat?
Jawabannya adalah dengan frasa A dan
bukan A. contohnya akhirat bukan handphone, surga bukan handphone. A dan bukan
A bisa diteruskan ke B dan bukan B dan seterusnya. Dunia tidak hanya ada 2
tetapi multi dimensi sampai ta terhingga. Dimensi 4 adalah spiritual. Ada dunia
lain seperti dunia memori, dunia mimpi. A=A hanya ada di pikiran/ akhirat/
langit, sedangkan A=-A ada di dunia.
Pemahaman
saya
Eksperimen tersebut menunjukkan
bahwa sebelum ada dalam pikiran maka seseorang belum dikatakan mengetahui.
Ketika sesuatu telah ada dalam pikiran maka orang mengetahui. Mengetahui merupakan kegiatan
yang menjadikan subjek berkomunikasi secara dinamik dengan eksistensi dan
kodrat dari “ada” benda-benda (Sartre). Orang mengetahui karena berpikir. Dengan
berpikir maka orang mendapatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan yang dimiliki
orang kemudian berpikir. Begitu seterusnya sehingga kemanusiaan manusia menjadi
lebih bermakna.
Bahwa manusia terbatas oleh ruang
dan waktu sehingga di dunia ini tidak ada yang tepat sama. Hal yang tepat sama
hanya ada di pikiran, akhirat, yang kemudian disimbolkan dengan A=A.
Hal itu seperti pernyataan Al
Ghazali yang menentang pernyataan yang lahir dari filsafat Aristotelian bahwa
alam adalah kekal. Menurutnya, alam berasal dari ketiadaan menjadi “ada” karena
ciptaan Tuhan. Dunia berasal dari iradat (kemauan) Tuhan semata-mata dan tidak
bisa terjadi dengan sendirinya. Iradat Tuhan bersifat mutlak dan terlepas dari
ruang dan waktu, namun ciptaan Tuhan (dalam hal ini dunia/alam) dapat ditangkap
oleh akal manusia, karena dunia terbatas dalam ruang dan waktu. Tuhan bersifat
transenden, namun kemauan (iradat) Tuhan adalah immanent dan merupakan sebab
hakiki dari segala kejadian.
Manfaat
yang saya petik dari perkuliahan ini
Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan
berbagai kelebihan dan keterbatasannya. Semua apa yang dilakukan dan dipikirkan
manusia muaranya adalah menuju ketaqwaan kepada Tuhan. Bahwa dunia ini ada
karena Pencipta yaitu Tuhan. Manusia diberi akal untuk berpikir, dalam usaha
mencari pengetahuan. Dengan pengetahuan kemudian orang berpikir lagi untuk
mendapatkan pemahaman yang lebih luas dan dalam, dan seterusnya sehingga
manusia yang bermakna adalah yang berpikir.
Hal
yang ingin saya ketahui
Apa maksud dari kalimat Tuhan bersifat transenden, namun kemauan
(iradat) Tuhan adalah immanent dan merupakan sebab hakiki dari segala kejadian.?
Pertanyaan tersebut telah terjawab di Refleksi pertemuan ke-5 tanggal 17
Oktober 2018
Referensi:
https://powermathematics.blogspot.com/
https://www.uny.ac.id/
Komentar
Posting Komentar